cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Burung Ababil dalam Surat Al-Fil Ayat 3: Siapa Mereka dan Bagaimana Peran Mereka?

Salah satu kisah yang terkenal dalam sejarah Islam adalah kisah tentara bergajah yang dipimpin oleh Abrahah, raja Yaman, yang ingin menghancurkan Ka'bah. Namun, rencana jahatnya itu digagalkan oleh Allah SWT dengan cara yang luar biasa. Allah SWT mengirimkan burung-burung yang disebut Ababil untuk melempari tentara bergajah dengan batu-batu dari neraka. Hal ini diceritakan dalam surat Al-Fil ayat 3, yang berbunyi:

وَّاَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا اَبَابِيْلَۙ

Wa arsala 'alaihim tairan abābil(a).

Artinya: "Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong."

Namun, siapakah sebenarnya burung Ababil itu? Apa jenis dan sifat mereka? Bagaimana mereka bisa mengalahkan tentara bergajah yang begitu besar dan kuat? Dalam artikel ini, kita akan mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan mengutip beberapa pendapat dari para ulama tafsir.

Burung Ababil: Jenis dan Sifat

Burung Ababil adalah istilah yang digunakan oleh Allah SWT untuk menyebut burung-burung yang diutus-Nya untuk membinasahkan tentara bergajah. Kata Ababil berasal dari kata 'ibalah' yang berarti kelompok atau gerombolan besar. Jadi, burung Ababil adalah burung-burung yang datang secara berkelompok atau berbondong-bondong.

Namun, jenis dan sifat burung Ababil tidak dijelaskan secara rinci dalam Al-Quran maupun hadits. Para ulama tafsir memiliki pendapat yang berbeda-beda tentang hal ini, tergantung pada sumber-sumber yang mereka rujuk. Berikut ini adalah beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ulama tafsir:

- Imam Al-Qurthubi (wafat 671 H) mengatakan bahwa burung Ababil adalah burung-burung yang tidak pernah dilihat sebelumnya dan tidak akan pernah dilihat lagi oleh manusia. Ia meriwayatkan dari Sa'id bin Jubair bahwa burung-burung itu menetas dan bersarang di antara langit dan bumi. Ia juga meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa burung-burung itu memiliki paruh seperti kebanyakan burung lainnya, namun telapak kakinya lebih mirip dengan telapak anjing.

- Imam Ibnu Asyur (wafat 1393 H) mengatakan bahwa burung Ababil adalah hewan yang terbang di udara dengan kedua sayapnya, namun jenisnya tidak dikenal oleh orang Arab. Ia meriwayatkan dari Aisyah bahwa burung-burung itu mirip dengan burung laut (khatatif). Ia juga meriwayatkan dari selainnya bahwa burung-burung itu lebih mirip dengan kelelawar.

- Imam Al-Baidhawi (wafat 685 H) mengatakan bahwa burung Ababil adalah kelompok burung yang bergabung menjadi satu. Ia tidak menjelaskan jenis dan sifat burung tersebut.

- Syekh Wahbah Az-Zuhaili (wafat 2015 M) mengatakan bahwa burung Ababil adalah jenis burung kecil yang berwarna hitam atau coklat gelap, dengan sayap lebar dan paruh runcing. Ia meriwayatkan dari beberapa hadits shahih bahwa burung-burung itu datang dari arah laut Merah, dan setiap burung membawa tiga batu, satu di paruhnya dan dua di kakinya.

Perbedaan Pendapat tentang Burung Ababil 

Dari pendapat-pendapat di atas, kita dapat melihat bahwa ada perbedaan dan persamaan tentang jenis dan sifat burung Ababil. Perbedaannya terletak pada bentuk fisik, warna, dan asal-usul burung-burung tersebut. 

Persamaannya terletak pada jumlah, cara terbang, dan misi burung-burung tersebut. Jumlahnya banyak, cara terbangnya berkelompok atau berbondong-bondong, dan misinya adalah melempari tentara bergajah dengan batu-batu dari neraka.

Burung Ababil: Peran dan Makna

Burung Ababil memiliki peran yang sangat penting dalam sejarah Islam. Mereka adalah salah satu bukti dari kekuasaan dan keadilan Allah SWT. Dengan burung-burung yang kecil dan lemah, Allah SWT mampu mengalahkan tentara bergajah yang besar dan kuat. Ini menunjukkan bahwa Allah SWT tidak memandang ukuran atau kekuatan, melainkan keimanan dan ketaatan.

Burung Ababil juga memiliki makna yang mendalam bagi umat Islam. Mereka adalah simbol dari pertolongan dan perlindungan Allah SWT bagi orang-orang yang beriman dan bertakwa. Mereka juga adalah contoh dari kerjasama dan solidaritas dalam berjuang di jalan Allah SWT. Mereka tidak takut menghadapi musuh yang lebih besar dari mereka, karena mereka bersatu dan berserah kepada Allah SWT.

Pelajaran dari Kisah Burung Ababil 

Dengan demikian, kita dapat mengambil pelajaran dari kisah burung Ababil dalam surat Al-Fil ayat 3. Kita harus selalu bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah menyelamatkan Ka'bah dari kehancuran. 

Kita juga harus selalu beriman dan bertakwa kepada Allah SWT, serta berjuang di jalan-Nya dengan penuh semangat dan kerjasama. Kita harus yakin bahwa Allah SWT akan memberikan pertolongan dan perlindungan kepada kita, sebagaimana Dia telah memberikannya kepada burung Ababil.

Semoga artikel ini bermanfaat bagi Anda. Jika Anda ingin membaca lebih lanjut tentang tafsir surat Al-Fil ayat 3, Anda dapat membaca dan mengkajinya dalam buku-buku tafsir. 😊

Ilustrasi gambar: Kajianku

Posting Komentar

Posting Komentar

close