cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Pengaruh Bentuk Kepala Bayi terhadap Perkembangan Otak dan Keterampilannya

Apakah bentuk kepala bayi mempengaruhi perkembangan otak dan keterampilannya? Simak penelitian terbaru dan saran-saran praktis untuk mencegah dan mengatasi sindrom plagiocephaly.

Apa itu Sindrom Plagiocephaly?

Bayi yang lahir dengan bentuk kepala normal biasanya memiliki perkembangan otak dan keterampilan yang sesuai dengan usianya. Namun, ada beberapa bayi yang memiliki bentuk kepala datar atau tidak simetris, yang disebut dengan sindrom plagiocephaly.

Sindrom plagiocephaly bisa terjadi karena berbagai faktor, seperti posisi bayi dalam kandungan, kelahiran prematur, atau kebiasaan tidur bayi dalam posisi telentang terus-menerus. Sindrom ini bisa mempengaruhi bentuk dan ukuran otak bayi, serta mengganggu aliran darah dan oksigen ke otak.

Apakah sindrom plagiocephaly berdampak pada perkembangan bayi? Menurut sebuah penelitian yang pernah dilakukan oleh George Institute for Global Health, University of Sydney, jawabannya adalah ya.

Penelitian: Sindrom Plagiocephaly Meningkatkan Risiko Keterlambatan Perkembangan Bayi

Penelitian yang dipimpin oleh Asisten Profesor Alexandra Martiniuk ini merupakan penelitian pertama yang mengkaji hubungan antara sindrom plagiocephaly dengan keterlambatan perkembangan bayi, khususnya dalam aspek keterampilan motorik, bahasa, dan kognitif.

Penelitian ini melibatkan 440 bayi berusia 4-12 bulan yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok dengan sindrom plagiocephaly dan kelompok tanpa sindrom plagiocephaly. Para peneliti mengukur bentuk kepala bayi dengan menggunakan alat bernama cranial vault asymmetry index (CVAI), serta menguji perkembangan bayi dengan menggunakan alat bernama Ages and Stages Questionnaire (ASQ).

Hasil penelitian yang dipublikasikan di Journal of Developmental and Behavioral Pediatricsÿ ini menunjukkan bahwa bayi dengan sindrom plagiocephaly memiliki risiko lebih tinggi mengalami keterlambatan perkembangan dibandingkan dengan bayi tanpa sindrom plagiocephaly.

Keterlambatan perkembangan ini sudah terlihat sejak usia 6 bulan, dan berlanjut hingga usia 3 tahun. Keterampilan motorik yang paling terpengaruh adalah kemampuan duduk dan merangkak, diikuti oleh kemampuan berbicara. Keterampilan bahasa dan kognitif juga terganggu oleh sindrom plagiocephaly.

Saran: Ubah Posisi Tidur Bayi dan Lakukan Terapi Bila Perlu

Sindrom plagiocephaly bisa dicegah atau diperbaiki dengan beberapa cara. Salah satunya adalah dengan mengubah posisi tidur bayi secara berkala, agar kepala bayi tidak selalu tertekan pada satu sisi saja.

"Ibu bisa memberikan waktu pada anak untuk beraktivitas dalam posisi tengkurap saat dia bangun, tentu saja sambil tetap diawasi. Posisi ini bisa membantu menguatkan otot leher dan punggung bayi, serta merangsang perkembangan motoriknya," kata Martiniuk.

Selain itu, Ibu juga bisa menggendong bayi dalam posisi tegak, memangku bayi sambil menopang kepalanya dengan tangan, atau meletakkan bayi dalam posisi miring saat dia berbaring. Hal ini bisa membantu memindahkan tekanan pada kepala bayi, serta merangsang perkembangan sensorik dan visualnya.

Jika bentuk kepala bayi sudah sangat datar atau tidak simetris, Ibu sebaiknya segera membawa bayi ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan dan terapi yang sesuai. Terapi yang biasa dilakukan adalah dengan menggunakan helm khusus yang bisa membentuk ulang kepala bayi secara perlahan.

Bentuk kepala bayi ternyata tidak hanya soal estetika, tetapi juga berkaitan dengan perkembangan otak dan keterampilannya. Oleh karena itu, Ibu perlu memperhatikan bentuk kepala bayi sejak dini, dan melakukan tindakan pencegahan atau perbaikan jika diperlukan.

: [Penelitian tentang sindrom plagiocephaly]

Sumber: http://www.tribunnews.com/

Posting Komentar

Posting Komentar

close