Sya'ban, salah satu bulan yang dimuliakan dalam agama Islam, dianggap istimewa karena terdapat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di dalamnya.
Bulan Sya'ban juga menjadi persiapan bagi umat muslim untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Oleh karena itu, penting bagi umat muslim untuk memperbanyak ibadah dan amalan baik di bulan Sya'ban. Dengan melakukan hal tersebut, diharapkan dapat mendapatkan keberkahan dan kemuliaan dari Allah SWT.
![]() |
| Ma Dza Fi Sya'ban, Kitab Rahasia Sya'ban Karangan Sayyid Muhammad. Foto: iqra.id |
Kitab Madza fi Sya'ban yang ditulis oleh Sayyid Muhammad menjelaskan secara detail tentang kemuliaan bulan Sya'ban tersebut. Dalam kitab tersebut dijelaskan tentang peristiwa-peristiwa mulia, seperti malam Nisfu Sya'ban yang dianggap sebagai malam penuh berkah dan rahmat.
أنَّ الزمانَ يَشرُف بما يقع فيه من الحوادث التي هي الأصل في إعطاء القيمة الاعتبارية للزمان وبمقدارها يكون مقداره، وبفضلها يكون فضله
Artinya, "Masa atau waktu menjadi mulia sebab peristiwa-peristiwa yang terjadi di waktu itu. Ini menjadi dasar utama untuk memberikan nilai atau harga pada sebuah waktu. Jadi, seberapa mulia kadar peristiwa itu menjadi kadar mulianya sebuah waktu dan seberapa kadar keutamaan peristiwa itu menjadi dasar kadar keutamaan waktunya. " (Muhammad bin Alawi bin Abbas bin Al-Maliki Al-Hasani, Madza fi Sya'ban, halaman 6).
Sebagai bulan yang dimuliakan dalam agama Islam, bulan Sya'ban juga dianggap sebagai bulan persiapan untuk menyambut bulan suci Ramadhan. Salah satu cara untuk melakukannya adalah dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw, yang dapat dilakukan sepanjang bulan Sya'ban. Dengan begitu, umat muslim diharapkan dapat meraih keberkahan dan kebaikan di dunia maupun di akhirat.
Menurut Sayyid Muhammad, bulan Sya'ban merupakan bulan yang istimewa untuk memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw. Hal ini karena ayat-ayat yang memerintahkan untuk mengirimkan shalawat kepada Nabi Muhammad saw diturunkan di bulan Sya'ban, yakni ayat:
اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰۤئكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّۗ يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا
Artinya, "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS Al-Ahzab: 56).
Sayyid Muhammad menyebutkan juga beberapa pendapat ulama yang mengatakan bahwa bulan Sya'aban merupakan bulan shalawat kepada Nabi Muhammad dengan alasan yang sama. Yakni bahwa ayat di atas diturunkan pada bulan Sya'ban. Ulama yang dimaksud adalah Ibnu Abi Ashaif Al-Yamani, pendapat beberapa ulama yang dinukil oleh Imam Shibabbudin Al-Qashtalani dalam kitabnya Al-Mawahibul Laduniyah dan Al-Hafizh Ibnu Hajar. (Al-Hasani, Madza fi Sya'ban, halaman 25-26).
Hakikat Mengirim Shalawat kepada Nabi
Sayyid Muhammad menjelaskan hakikat shalawat kepada Nabi saw, bahwa dalam ayat 56 surat Al-Ahzab di atas Allah memerintahkan kepada seluruh orang mukmin dengan mengikuti Allah dan para MalaikatNya yang membaca shalawat kepada Nabi Muhammad. Maksudnya Allah memerintahkan semua orang mukmin untuk bershalawat kepada Nabi bukan karena kebutuhan Allah atas hal tersebut, melainkan untuk tujuan memuliakan manusia dengan apa yang diimaninya.
Sayyid Muhammad menukil ungkapan Syekh Izzuddin ibn Abdussalam:
قال الشيخ عز الدين ابن عبد السلام رحمه الله: «ليست الصلاة على رسول الله ﷺ شفاعة منا له، فإنَّ مثلنا لا يشفع لمثله، ولكن الله سبحانه وتعالى أمرنا بمكافأة من أنعم علينا وأحسن إلينا، فإن عجزنا عن مكافأته؛ دعونا له أن يكافئه عنا . ولما عجزنا عن مكافأة سيد الأولين والآخرين، أمر رب العالمين أن نرغب إليه، وأن نُصلّي عليه، لتكون صلاتنا عليه مكافأة بإحسانه إلينا وإفضاله علينا ولا إحسان أفضل من إحسانه ﷺ : من صلى علي صلاة صلى الله عليـه بهـا عشراً»... رواه مسلم
Artinya, "Syekh Izzuddin ibn Abdussalam berkata: "Bershalawat kepada Rasulullah bukanlah syafa'at dari kita untuk Rasulullah, karena manusia seperti kita tidak dapat memberi syafa'at kepada yang lainnya. Melainkan Allah memerintahkan kita untuk mukafa'ah atau memberi balasan dan berbuat baik kepada orang yang telah memberi nikmat kepada kita. Jika tidak mampu untuk membalasnya, kita diperintahkan untuk mendoakannya agar Allah yang memberi balasannya atas kebaiknya pada kita. Karena ketidakmampuan kita untuk membalas Nabi Muhammad saw, maka kemudian Allah memerintahkan kita untuk mencintainya dan bershalawat kepadanya supaya shalawat kita kepadanya menjadi balasan atas kebaikannya kepada kita. Namun, tetap saja tidak ada kebaikan yang lebih utama dibanding kebaikan Nabi Muhammad saw. Disebutkan dalam hadist riwayat Imam Muslim: “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan membalasnya dengan 10 shalawat." (Al-Hasani, Madza fi Sya'ban, halaman 26-27).
Baca juga: amalan doa di malam Nisfu Sya'ban versi berjamaah
Shalawat kepada Nabi Muhammad saw memiliki makna yang mendalam. Sebagai ungkapan terima kasih kepada Nabi yang tidak mungkin dapat terbalaskan atas segala kebaikan yang telah diberikan kepada kita, shalawat tidak hanya sekadar doa atau permohonan syafaat.
Shalawat juga menjadi bukti ketidakmampuan kita untuk membalas segala kebaikan yang telah diterima dari beliau. Selain itu, shalawat juga merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan rasa cinta dan penghormatan kita kepada Nabi Muhammad saw, yang merupakan perantara hidayah dan petunjuk bagi umat manusia.
Dengan memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw, kita dapat memperoleh keberkahan dan rahmat dari Allah SWT serta mendapatkan keberuntungan di dunia dan akhirat. Oleh karena itu, sebagai umat muslim, penting bagi kita untuk selalu memperbanyak shalawat kepada Nabi Muhammad saw dan menyampaikan rasa terima kasih kita kepada beliau. Wallahu a'lam.



Posting Komentar