cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Hukum dan Tata Cara Puasa Sya’ban, Hikmah, Keutamaaan, dan Niatnya

Puasa Sya'ban merupakan ibadah puasa yang dilakukan pada bulan Sya'ban dan dianjurkan sebagai sunnah berdasarkan hadits-hadits shahih dari Nabi Muhammad SAW, yang di antaranya adalah dua hadits berikut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يُفْطِرُ؛ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ: لَا يَصُومُ. وَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ قَطُّ إِلَّا رَمَضَانَ، وَمَا رَأَيْتُهُ فِي شَهْرٍ أَكْثَرَ مِنْهُ صِيَامًا فِي شَعْبَانَ. (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ)

Artinya, “Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra, ia berkata: ‘Rasulullah saw sering berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berbuka’; beliau juga sering tidak berpuasa sehingga kami katakan: ‘Beliau tidak berpuasa’; aku tidak pernah melihat Rasulullah saw menyempurnakan puasa satu bulan penuh kecuali Ramadlan; dan aku tidak pernah melihat beliau dalam sebulan (selain Ramadhan) berpuasa yang lebih banyak daripada puasa beliau di bulan Sya’ban’.” (Muttafaqun ‘Alaih. Adapun redaksinya adalah riwayat Muslim).

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهَا قَالَتْ: ... كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ كُلَّهُ، كَانَ يَصُومُ شَعْبَانَ إِلاَّ قَلِيلاً. (رواه مسلم)

Artinya, “Diriwayat dari ‘Aisyah ra, ia berkata: ‘… Rasulullah saw sering berpuasa Sya’ban seluruhnya; beliau sering berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja’.” (HR Muslim).

Dalam praktiknya, puasa Sya'ban seringkali dijadikan sebagai momen untuk meningkatkan ibadah di bulan-bulan sebelum Ramadan tiba. Beberapa ulama menyatakan bahwa puasa Sya'ban dapat menjadi persiapan mental dan fisik untuk menjalani ibadah puasa di bulan Ramadan yang lebih intensif. 

Para ulama telah menjelaskan bahwa redaksi kedua dalam hadits mengenai puasa Sya'ban, yaitu "Beliau sering berpuasa Sya’ban kecuali sedikit saja", merupakan penjelas bagi redaksi pertama yang menyatakan "Rasulullah saw sering berpuasa Sya’ban seluruhnya". 

Dalam hal tersebut, redaksi kedua memberikan penjelasan bahwa maksud Rasulullah saw sering berpuasa Sya'ban seluruhnya adalah dengan berpuasa sebagian besar bulan tersebut. Hal ini dijelaskan oleh Imam an-Nawawi dalam kitabnya al-Majmû’ Syarhul Muhaddzab. 

Selain itu, ada hadits yang mengharamkan puasa pada separuh kedua bulan Sya’ban, yaitu:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ: أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: إِذَا اِنْتَصَفَ شَعْبَانَ فَلَا تَصُومُوا. (رَوَاهُ اَلْخَمْسَةُ)

Artinya, “Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra, sungguh Rasullah saw bersabda: ‘Ketika Sya’ban sudah melewati separuh bulan, maka janganlah kalian berpuasa’.” (HR Imam Lima: Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’i, dan Ibnu Majah)

Puasa Sya'ban diharamkan apabila dimulai pada tanggal 16, berdasarkan hadits yang mengatur ibadah tersebut. Oleh karena itu, puasa Sya'ban harus dimulai sebelum tanggal tersebut, yaitu mulai dari tanggal 1 atau paling lambat tanggal 15. Apabila seseorang belum memulai berpuasa hingga tanggal 15, maka haram bagi mereka untuk berpuasa mulai dari tanggal 16 hingga akhir bulan Sya'ban, sesuai dengan petunjuk yang terdapat dalam hadits. 

Dalam konteks permasalahan puasa Sya'ban, as-Sayyid al-Bakri memberikan penjelasan yang lebih rinci dengan menguraikan tiga pengecualian dari keharaman berpuasa di separuh kedua bulan Sya'ban sebagaimana berikut:

Pertama, ​​​​​​disambung dengan puasa pada hari-hari sebelumnya, meskipun dengan puasa tanggal 15 Sya’ban. Semisal orang puasa pada tanggal 15 Sya’ban, kemudian terus berpuasa pada hari-hari berikutnya, maka tidak haram.

Kedua, bertepatan dengan kebiasaan puasanya. Semisal orang biasa puasa Senin Kamis atau puasa Dawud, maka meskipun telah melewati separuh Sya’ban ia tetap tidak haram berpuasa sesuai kebiasaannya.

Ketiga, merupakan puasa nazar atau puasa qadha’, meskipun qadha dari puasa sunnah. Bila demikian maka tidak haram. (Zainuddin bin Abdil Aziz al-Malibari, Fathul Mu’în pada I’ânatut Thâlibîn, [Beirut, Dârul Fikr], juz II, h. 273-274).

Setelah memperhatikan berbagai ketentuan hukum, ada beberapa cara yang dapat dilakukan dalam pelaksanaan ibadah puasa Sya'ban. Menurut Ibnu Hajar al-Haitami, puasa Sya'ban dapat dilakukan selama satu, dua, tiga hari, dan seterusnya hingga satu bulan penuh. Namun, Rasulullah tidak pernah melaksanakan puasa Sya'ban selama satu bulan penuh agar tidak disalahpahami bahwa puasa Sya'ban adalah ibadah yang wajib dilakukan. 

Hikmah Puasa Sya’ban

Hikmah puasa Sya’ban yang disunnahkan sangatlah banyak. Bulan Sya’ban sering kali dilalaikan manusia karena berada di antara dua bulan suci yaitu Rajab dan Ramadhan. Oleh karena itu, disarankan untuk memperbanyak puasa Sya’ban agar tidak melalaikan bulan ini.

Selain itu, Sya’ban juga menjadi bulan laporan tahunan amal manusia kepada Allah swt. Dalam rangka menyambut laporan tahunan tersebut, disunnahkan untuk berpuasa di bulan Sya’ban agar dalam keadaan berpuasa saat melaporkan amalannya kepada Allah swt. 

Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah Saw:

عن أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ، قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللهِ، لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنَ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ. قَالَ: ذَاكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ، وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ، فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ. (رواه النسائي وأبو داود وابن خزيمة. صحيح)

Artinya, “Diriwayatkan dari Usamah bin Zaid ra: ‘Aku berkata: ‘Wahai Rasulullah, saya tidak pernah melihat anda berpuasa satu bulan dari berbagi bulan sebagaimana puasa anda dari bulan Sya’ban.’ Beliau menjawab: ‘Sya’ban itu bulan yang dilupakan manusia di antara Rajab dan Ramadhan. Sya’ban adalah bulan yang di dalamnya amal-amal dilaporkan kepada Tuhan semesta alam, maka aku senang amalku dilaporkan sementara aku sedang dalam kondisi berpuasa’.” (HR An-Nasa’i, Abu Dawud, dan Ibnu Khuzaimah. Shahîh). (Al-Haitami, al-Fatâwal Kubrâ, juz II, h. 82; dan Ahmad bin Ali bin Hajar al-‘Asqalani, Fathul Bâri Syarhu Shahîhil Bukhâri, [Beirut, Dârul Ma’rifah, 1379 H], juz IV, h. 210).

Keutamaan Puasa Sya’ban

Adapun keutaman puasa Sya’ban di antaranya adalah mendapatkan syafaat Rasulullah saw pada hari kiamat kelak. Syekh Nawawi al-Bantani berkata:

وَالثَّانِي عَشَرَ صَوْمُ شَعْبَانَ، لِحُبِّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَهُ. فَمَنْ صَامَهُ نَالَ شَفَاعَتَهُ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Artinya, “Puasa sunnah yang keduabelas adalah Puasa Sya’ban, karena kecintaan Rasulullah saw terhadapnya. Karenanya, siapa saja yang memuasainya, maka ia akan mendapatkan syafaat belau di hari kiamat.” (Muhammad bin Umar Nawawi al-Jawi, Nihâyatuz Zain fi Irsyâdil Mubtadi-în, [Bairut, Dârul Fikr], h. 197).

Tata Cara Puasa Sya’ban

Puasa Sya’ban secara teknis dapat dilakukan dengan langkah-langkah sebagai berikut:

Pertama, niat di hati. Niat puasa baik dilakukan dengan niat puasa mutlak, seperti: “Saya niat puasa,” atau dengan cara yang lebih baik sebagaimana berikut:

نَوَيْتُ صَوْمَ شَعْبَانَ لِلّٰهِ تَعَالَى

Nawaitu shauma sya’bâna lilâhi ta’âlâ.

Artinya, “Saya niat puasa Sya’ban karena Allah ta’âlâ.

Baca juga: Sya'ban menjadi bulan sholawat menurut perspektif Sayyid Muhammad Al Maliki

Disunnahkan untuk mengucapkan niat puasa Sya’ban dengan lisan selain dari niat di dalam hati. Seperti halnya puasa sunnah lainnya, niat puasa Sya’ban dapat dilakukan pada malam hari sebelum siang hari dan sebelum waktu zawal, dengan syarat belum melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sejak terbit fajar atau sejak masuk waktu subuh. Ini bertujuan agar puasa tersebut sah dan diterima oleh Allah SWT. (Al-Malibari, Fathul Mu’în, juz II, h. 223).

Kedua, makan sahur. Lebih utama makan sahur dilakukan menjelang masuk waktu subuh sebelum imsak.

Ketiga, melaksanakan puasa dengan menahan diri dari segala hal yang membatalkan, seperti makan, minum dan semisalnya.

Keempat, lebih menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan pahala puasa seperti berkata kotor, menggunjing orang, dan segala perbuatan dosa. Rasulullah saw bersabda:

كَمْ مِنْ صَائِمٍ لَيْسَ لَهُ مِنْ صِيَامِهِ إِلَّا الْجُوعِ وَالْعَطَشِ (رواه النسائي وابن ماجه من حديث أبي هريرة)

Artinya, “Banyak orang yang berpuasa yang tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali rasa lapar dan kehausan.” (HR an-Nasa’i dan Ibnu Majah dari riwayat hadits Abu Hurairah ra). (Abul Fadl al-‘Iraqi, al-Mughni ‘an Hamlil Asfâr, [Riyad: Maktabah Thabariyyah, 1414 H/1995 M], juz I, h. 186).

Kelima, segera berbuka puasa saat tiba waktu maghrib. (Ibrahim al-Bajuri, Hâsyiyyatul Bâjuri ‘alâ Ibnil Qâsim al-Ghazi, [Semarang, Thoha Putra], juz I, h. 292-294).

Sumber: NU Online 

Posting Komentar

Posting Komentar

close