Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Makanan Pokok Bangsa Arab Menjadi Komoditas Zakat pada Zaman Nabi

Komoditi zakat pada zaman Nabi Muhammad SAW merupakan makanan pokok bangsa Arab. Jika zakat dan sedekah di negara-negara Asia Tenggara bisa dan biasanya ditunaikan dengan jenis komoditas beras. Hal berbeda jika dibandingkan pada zaman Nabi Muhammad SAW. 
Karena jenis zakat fitrah pada masa Nabi Muhammad SAW bukan berupa beras dan uang, melainkan gandum dan kurma. Hal ini tentu menyesuaikan komoditas yang ada pada wilayah tersebut. Dalam sebuah hadits disebutkan, 

فرض رسول الله زكاة الفطر من رمضان على الناس صاعا من تمر اوصاعا من شعر على كل حُـرٍّ او عبد ذكر او انثى من المسلمين

"Faradha Rasululullahi SAW zakaatal-fithri min Ramadhaana alannaasi shaa'an min tamrin aw shaa'an min syi'irin ala kulli hurrin aw abdin dzakarin aw untsa minal-Muslimin,".

Yang artinya, "Rasulullah SAW memfardhukan zakat fitrah bulan Ramadhan kepada manusia sebesar satu shaa kurma, yaitu kepada setiap orang merdeka, budak, laki-laki, dan perempuan dari orang Muslim,".

Jika kita mengenal lebih dekat dengan kehidupan zaman Nabi Muhammad SAW, maka telah diketahui bahwa gandum dan kurma sudah menjadi komoditi yang dizakatkan. Karena kedua bahan makanan tersebut merupakan makanan pokok bangsa Arab. 

Ukuran (minimal) Zakat Fitrah per orang

Memang tidak sama seperti keadaan di negara-negara Asia Tenggara, di mana makanan pokoknya pada umumnya berupa beras. Tetapi untuk ukuran minimal zakat fitrah per orang tidak berbeda. Ukurannya sama, yaitu 1 sho' atau sekitar 3 kg.

Dalam hadits lainnya disebutkan, 

"Addu an kulli hurrin wa abdin shaghirun aw kabirin nishfa shaa'in min burrin aw shaa'an min tamrin aw sya'irin,". Yang artinya, "Bayarkan untuk tiap-tiap orang yang merdeka, hamba, anak kecil, atau orang tua berupa setengah sha burr atau satu sha kurma atau tepung sya'ir,".

Dalam hadis lainnya juga disebutkan, 

"Kunna nukhriju zakatal-fithri idz kaana fiina Rasulullahi SAW shaa'an min tha'amin aw shaa' min tamrin aw shaa'an min syi'irin aw shaa'an min zabibin aw shaa'an min aqithin falaa azaal ukhrijuhu kama kuntu,".

Yang artinya, 

"Kami mengeluarkan zakat fitrah ketika dahulu Rasulullah bersama kami sebanyak satu sha' tha'am (hinthah) atau satu sha' kurma atau satu sha' sya'ir atau satu sha' zabib, atau satu sha' aqith. Dan aku senantiasa mengeluarkan zakat fitrah sedemikian itu selama hidupku,".

Posting Komentar untuk " Makanan Pokok Bangsa Arab Menjadi Komoditas Zakat pada Zaman Nabi"

close