cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Hadits dan Riwayat Tentang Doa Qunut Sholat Shubuh dan Sholat Lainnya

Secara umum, pengertian doa Qunut Shubuh adalah doa yang dibaca dalam shalat subuh oleh sebagian umat Islam, terutama di Indonesia. Doa ini berisi permohonan ampun, keselamatan, dan petunjuk kepada Allah SWT, serta permohonan perlindungan dari berbagai bahaya dan bencana. 

Doa qunut ini biasanya dibaca pada rakaat kedua sholat subuh, tepatnya setelah I'tidal (berdiri tegak) dari rukuk usai membaca "Rabbana lakal Hamdu.." atau antara i'tidal dan sujud.

Bacaan Doa Qunut Subuh Saat Jadi Imam

اَللّهُمَّ اهْدِنَا فِيْمَنْ هَدَيْتَ وَعَافِنَا فِيْمَنْ عَافَيْتَ وَتَوَلَّنَا فِيْمَنْ تَوَلَّيْتَ وَبَارِكْ لَنَا فِيْمَا اَعْطَيْتَ وَقِنَا بِرَحْمَتِكَ شَرَّمَا قَضَيْتَ فَاِنَّكَ تَقْضِىْ وَلَا يُقْضَى عَلَيْكَ وَاِنَّهُ لَا يَذِلُّ مَنْ وَالَيْتَ وَلَا يَعِزُّ مَنْ عَادَيْتَ تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَى مَا قَضَيْتَ وَنَسْتَغْفِرُكَ وَنَتُوْبُ اِلَيْكَ وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ اْلاُمِّيِّ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ

"Ya Allah, berilah aku petunjuk seperti orang-orang yang telah Engkau beri petunjuk. Berilah aku kesehatan seperti orang yang telah Engkau beri kesehatan. Berilah berkah pada segala apa yang telah Engkau berikan kepadaku. Dan peliharalah aku dari kejahatan yang Engkau pastikan. Sesungguhnya tidaklah akan hina orang-orang yang telah Engkau beri kekuasaan."

"Dan tidak akan mulia orang yang Engkau musuhi. Maha berkahlah Engkau dan Maha Luhurlah Engkau. Segala Puji bagi-Mu atas yang telah Engkau pastikan. Aku mohon ampun dan kembalilah (taubat) kepada Engkau. Semoga Allah memberi rahmat, berkah dan salam atas Nabi Muhammad beserta keluarganya."

Meskipun ada perbedaan pendapat mengenai keshahihan hadits tentang qunut, terutama hadits yang secara khusus menyebutkan doa qunut dalam shalat subuh, namun hal ini diperbolehkan menurut sebagian ulama dalam mazhab-mazhab tertentu. Namun, di kalangan ulama juga terdapat perbedaan pendapat mengenai kebolehan dan tata cara membaca doa qunut dalam shalat subuh.

Membaca doa qunut menurut mazhab Imam Syafi'i

واحتج اصحابنا بحديث انس رضى الله عنه: أن النبي صلي الله تعالي عليه وسلم قنت شهرا يدعوا عليهم ثم ترك فأما في الصبح فلم يزل يقنت حتى فارق الدنيا. حديث صحيح رواه جماعة من الحفاظ وصححوه وممن نص علي صحته الحافظ أبو عبد الله محمد بن علي البلخى والحاكم أبو عبد الله في مواضع من كتبه والبيهقي ورواه الدار قطني من طرق بأسانيد صحيحة.

Para ulama mazhab Syafi’i berdalil dengan hadits Anas, bahwa Rasulullah Saw membaca Qunut selama satu bulan mendoakan orang-orang musyrik (yang membunuh shahabat Rasulullah SAW agar dibalas Allah Swt). Kemudian Rasulullah SAW berhenti (melakukannya). Sedangkan pada shalat Shubuh, beliau tetap membaca Qunut hingga beliau meninggal dunia.

Ini adalah hadits shahih, diriwayatkan oleh sekelompok ulama hadits dari kalangan para al-Hafizh, mereka nyatakan sebagai hadits shahih. Diantara ulama yang menyatakan bahwa hadits ini shahih adalah al-Hafizh Abu Abdillah Muhammad bin Ali al-Balkhi, Imam al-Hakim Abu Abdillah di beberapa tempat dalam kitabnya dan Imam al-Baihaqi. Disebutkan oleh Imam ad-Daraquthni lewat beberapa jalur periwayatan dengan sanad-sanad yang shahih.

Dalam sebuah riwayat hadits yang lain dengan sanad hasan, disebutkan bahwa:
وعن العوام بن حمزة قال: سألت أبا عثمان عن القنوت في الصبح قال: بعد الركوع قلت: عمن؟ قال: عن أبى بكر وعمر وعثمان رضي الله تعالي عنهم. رواه البيهقي وقال هذا إسناد حسن.

Dari al-‘Awwam bin Hamzah, ia berkata: “Saya bertanya kepada Abu Utsman tentang doa Qunut pada shalat Shubuh”. Ia menjawab, “Dibaca setelah ruku’”. Saya bertanya kepadanya, “Dari siapa?”. Ia menjawab, “Dari Abu Bakar, Umar dan Utsman”. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, ia berkata, “Sanadnya hasan”.

Dalam sebuah hadits yang lain yang diriwayatkan oleh Imam Al Baihaqi berbunyi:

ورواه البيهقى عن عمر أيضا من طرق وعن عبد الله بن معقل - بفتح الميم وإسكان العين المهملة وكسر القاف - التابعي قال " قنت علي رضى الله عنه في الفجر " رواه البيهقى وقال هذا عن علي صحيح مشهور.

Al-Baihaqi meriwayatkan dari Umar, dari beberapa jalur periwayatan, dari Abdullah bin Ma’qil seorang tabi’in, ia berkata, “Imam Ali bin Abi Thalib membaca doa Qunut pada shalat Shubuh”. Diriwayatkan oleh al-Baihaqi, ia berkata, “Ini dari Imam Ali, shahih masyhur”.

وعن البراء رضى الله تعالى عنه: أن رسول الله صلي الله عليه وسلم كان يقنت في الصبح والمغرب. رواه مسلم ورواه أبو داود وليس في روايته ذكر المغرب ولا يضر ترك الناس القنوت في صلاة المغرب لانه ليس بواجب أو دل الاجماع على نسخه فيها.
Dari al-Barra’: sesungguhnya Rasulullah SAW membaca doa Qunut pada shalat Shubuh dan shalat Maghrib. Diriwayatkan oleh Imam Muslim dan Juga diriwayatkan oleh Imam Abu Daud tanpa menyebutkan shalat Maghrib. Doa Qunut tidak dibaca lagi dalam shalat Maghrib karena doa Qunut dalam shalat Maghrib tersebut tidak wajib dan menurut Ijma’ ulama hukum membaca doa Qunut dalam shalat Maghrib telah dinasakh (mansukh).

Berikut ini komentar dari Imam Nawawi terhadap riwayat yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak membaca qunut di waktu subuh:

وأما الحواب عن حديث أنس وأبى هريرة رضي الله عنهما في قوله ثم تركه فالمراد ترك الدعاء على أولئك الكفار ولعنتهم فقط، لا ترك جميع القنوت أو ترك القنوت في غير الصبح وهذا التأويل متعين لان حديث أنس في قوله: لم يزل يقنت في الصبح حتى فارق الدنيا. صحيح صريح فيجب الجمع بينهما وهذا الذى ذكرناه متعين للجمع وقد روى البيهقي باسناده عن عبد الرحمن بن مهدي الامام انه قال: انما ترك اللعن ويوضح هذا التأويل رواية أبي هريرة السابقة وهي قوله: ثم ترك الدعاء لهم.
(Beberapa Jawaban Imam Nawawi Terhadap Riwayat-Riwayat Yang Menyebutkan Bahwa Rasulullah Saw Tidak Membaca Doa Qunut Pada Shalat Shubuh).
Adapun jawaban terhadap hadits Anas dan Abu Hurairah, tentang makna kalimat:
ثم تركه
“Kemudian Rasulullah SAW meninggalkannya”. Maksudnya adalah Rasulullah SAW tidak lagi membacakan doa dan laknat terhadap orang-orang kafir. Bukan berarti meninggalkan doa Qunut secara keseluruhan. Atau makna lain: Rasulullah SAW meninggalkan doa Qunut dalam shalat lain selain shalat Shubuh. Demikian takwil yang sesuai, karena hadits Anas menyebutkan: Rasulullah SAW terus membaca doa Qunut hingga meninggal dunia sudah shahih dan jelas, maka kedua hadits ini perlu dikombinasikan. Makna yang telah kami sebutkan merupakan kombinasi antara kedua hadits tersebut. Imam al-Baihaqi telah meriwayatkan dengan sanadnya dari Imam Abdurrahman bin Mahdi bahwa ia berkata, “Rasulullah SAW hanya meninggalkan laknat (terhadap orang-orang kafir)”. Penakwilan ini dijelaskan oleh riwayat Abu Hurairah di atas yang menyatakan:
ثم ترك الدعاء لهم
“Kemudian Rasulullah Saw meninggalkan doa terhadap mereka”.

Ada sebuah hadits yang bisa dijadikan sebagai penguat dari ketetapan qunut subuh:

والجواب عن حديث سعد بن طارق أن رواية الذين اثبتوا القنوت معهم زيادة علم وهم أكثر فوجب تقديمهم.
Jawaban terhadap hadits Sa’ad bin Thariq bahwa riwayat yang menetapkan adanya Qunut (Shubuh) merupakan pengetahuan tambahan. Riwayat yang menetapkan adanya Qunut (Shubuh) lebih banyak, maka wajib untuk didahulukan.

وعن حديث ابن مسعود أنه ضعيف جدا لانه من رواية محمد بن جابر السحمى وهو شديد الضعف متروك. ولانه نفي وحديث أنس إثبات فقدم لزيادة العلم

Jawaban terhadap hadits Ibnu Mas’ud, hadits tersebut adalah hadits Dha’if Jiddan, karena diriwayatkan oleh Muhammad bin Jabir as-Sahmi, statusnya sangat dha’if matruk. Karena haditsnya menafikan Qunut (Shubuh) sedangkan hadits Anas menetapkan adanya Qunut (Shubuh), maka hadits yang menetapkan adanya Qunut (Shubuh) lebih didahulukan karena adanya pengetahuan dan riwayat tambahan.

وحديث ابن عمر أنه لم يحفظه أو نسيه وقد حفظه أنس والبراء بن عازب وغيرهما فقدم من حفظ
Jawaban terhadap hadits Ibnu Umar, ia tidak mengingatnya, atau ia lupa. Akan tetapi Anas, al-Barra’ bin ‘Azib dan yang lain mengingatnya. Maka riwayat yang mengingat lebih didahulukan.

وعن حديث ابن عباس أنه ضعيف جدا وقد رواه البيهقى من رواية أبى ليلي الكوفى وقال هذا لا يصح وابو ليلى متروك وقد روينا عن ابن عباس: انه قنت في الصبح.
Jawaban terhadap hadits Ibnu Abbas, hadits tersebut adalah hadits dha’if jiddan (sangat lemah). Disebutkan oleh al-Baihaqi dari riwayat Abu Laila al-Kufi, ia berkata, “Tidak shahih. Status Abu Laila adalah Matruk. Telah kami riwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa ia membaca Qunut pada shalat Shubuh.
وعن حديث أم سلمة انه ضعيف لانه من رواية محمد بن يعلي عن عنبسة بن عبد الرحمن عن عبد الله بن نافع عن ابيه عن ام سلمة قال الدار قطني هؤلاء الثلاثة ضعفاء ولا يصح لنافع سماع من ام سلمة والله اعلم.
Jawaban terhadap hadits Ummu Salamah, hadits tersebut adalah hadits dha’if, karena diriwayatkan oleh Muhammad bin Ya’la dari ‘Anbasah bin Abdirrahman, dari Abdillah bin Nafi’, dari Bapaknya, dari Ummu Salamah. Ad-Daraquthni berkata, “Ketiga perawi ini dha’if. Tidak benar bahwa Nafi’ mendengar hadits tersebut dari Ummu Salamah”. Wallahu a’lam.
Demikianlah beberapa hadits dan riwayat mengenai doa qunut salat subuh dan shalat lainnya. Semoga bermanfaat dan menjadi pengetahuan kita semua. Wallahu A'lam bisshowab 

(المجموع شرح المهذب للنووي: جـ 3، صـ 505).
Dari kitab al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab karya Imam Nawawi, juz: 3, halaman: 505. 

Sumber: somadmorocco.blogspot.com

0

Posting Komentar

close