cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Lailatul Qomariah: Anak Tukang Becak yang Raih Gelar Doktor dengan IPK 4.00

Kisah inspiratif Lailatul Qomariah, anak tukang becak yang berhasil meraih gelar doktor dengan IPK 4.00. Temukan perjuangan dan kunci suksesnya di sini.

Perjuangan Lailatul Qomariah dari Anak Tukang Becak Menjadi Doktor

Tidak ada yang mustahil di dunia ini. Hal itu dibuktikan oleh Lailatul Qomariah, seorang perempuan berusia 27 tahun yang berhasil meraih gelar doktor dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) sempurna, 4.00. 

Meski berasal dari keluarga sederhana, ayahnya bekerja sebagai tukang becak dan kini menjadi buruh tani, Laila membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukanlah halangan untuk meraih kesuksesan.

Laila, anak pertama dari tiga bersaudara, merasa bertanggung jawab untuk memberikan contoh terbaik bagi adik-adiknya. “Ayah saya dulu bekerja sebagai tukang becak. Sekarang buruh tani. Dan, saya anak pertama di antara tiga bersaudara,” ujarnya. Perjuangan Laila dimulai setelah lulus SMA, di mana dia harus berjuang untuk survive selama kuliah.

Perjalanan Kuliah dan Tantangan yang Dihadapi

Laila memulai perjalanan akademisnya dengan mengikuti seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNMPTN) melalui jalur bidikmisi. Dia berhasil diterima di Departemen Teknik Kimia di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS). 

Meski mendapatkan beasiswa bidikmisi sebesar Rp 600 ribu per bulan, Laila masih merasa kesulitan memenuhi kebutuhan hidupnya di Surabaya. “Beasiswa itu kan belum buat makan, buku, dan lain-lain,” ungkapnya.

Untuk bertahan, Laila menjalani rutinitas yang padat. Pagi hingga sore dihabiskan untuk kuliah, sementara sore hingga malam dia mengajar les privat. Untuk menghemat biaya, Laila memilih berjalan kaki atau bersepeda ke kampus. “Saya berusaha hemat untuk bertahan hingga lulus. Pokoknya, saya hanya berpikir jangan sampai putus kuliah karena ekonomi,” katanya.

Kesuksesan di Program PMDSU dan Penelitian Silika

Setelah lulus S-1 dengan IPK 3,7, Laila bertekad melanjutkan studi S-2. Namun, keterbatasan biaya menjadi tantangan besar. Beruntung, dia menemukan program Pendidikan Magister Menuju Doktor untuk Sarjana Unggul (PMDSU) yang dibiayai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi (Kemenristekdikti). Laila memenuhi persyaratan program tersebut, termasuk TOEFL minimal 500, tes potensi akademik (TPA) minimal 550, dan IPK minimal 3,5.

Selama menempuh program PMDSU, Laila fokus pada penelitian tentang silika. “Saya meneliti empat struktur silika,” jelasnya. Silika, yang biasanya hanya dimanfaatkan sebagai penyerap jamur, ternyata memiliki banyak manfaat lain. Penelitian Laila membuka peluang baru untuk aplikasi silika dalam berbagai bidang.

Impian Mengabdi sebagai Dosen di ITS

Setelah meraih gelar doktor, Laila memiliki impian untuk mengabdi sebagai dosen di ITS. “Ada beberapa tawaran dari perusahaan. Tapi, saya tetap pengin jadi dosen,” katanya. Passion Laila dalam mengajar menjadi alasan utama mengapa dia memilih untuk tetap berada di dunia akademis.

Kisah Lailatul Qomariah adalah bukti nyata bahwa kerja keras dan tekad yang kuat dapat mengubah nasib seseorang. Meski berasal dari keluarga sederhana, Laila berhasil meraih prestasi gemilang dan menjadi inspirasi bagi banyak orang.

Apakah Anda terinspirasi oleh kisah Lailatul Qomariah? Bagikan pendapat Anda di kolom komentar di bawah ini! Jangan lupa untuk membagikan artikel ini kepada teman-teman Anda agar mereka juga bisa terinspirasi. 

Jika Anda memiliki pertanyaan atau ingin mengetahui lebih banyak tentang program beasiswa seperti PMDSU, silakan hubungi kami atau kunjungi situs resmi ITS.

0

Posting Komentar

close