cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

KH Baidlowi Lasem, Ulama Sederhana dan Berpengaruh di Dunia

"Pelajari kontribusi KH Baidlowi Lasem dalam Islam, dari fatwa zakat fitrah hingga perannya di Haramain dan pesantren Al-Wahdah."

KH Baidlowi Lasem adalah salah satu ulama yang sangat dihormati dan dikenal luas karena kedalaman ilmu dan kebijaksanaannya. Dalam postingan ini, kita akan membahas kontribusi besar beliau dalam dunia Islam, baik melalui fatwa-fatwa pentingnya maupun peranannya dalam pendidikan dan dakwah.

Profil KH Baidlowi Lasem

KH Baidlowi Lasem lahir di Lasem, Rembang, Jawa Tengah pada 12 Syawal 1297 H atau 17 September 1880. Beliau merupakan keturunan langsung dari Sayyid Abdurrahman atau dikenal sebagai Mbah Syambu Lasem, yang juga merupakan keturunan Rasulullah SAW. Keturunan beliau termasuk Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Aziz bin Kiai Baidlowi bin Kiai Abdul Latif bin Kiai Abdul Bar bin Kiai Abdul Alim bin Sayyid Abdurrahman (Mbah Syambu) bin Sultan Benowo bin Jaka Tingkir (Sultan Hadiwijaya).

Kontribusi Dalam Dunia Islam

Fatwa-Fatwa Penting KH Baidlowi Lasem

Salah satu kontribusi penting KH Baidlowi adalah fatwa-fatwa yang beliau berikan, seperti mengenai zakat fitrah. Beliau memfatwakan bahwa zakat fitrah dapat dibayar dengan makanan pokok lokal, termasuk jagung, yang menjadi salah satu contoh kebijaksanaan beliau dalam beragama.

Peran dalam Ketasawufan dan Organisasi

Dalam dunia ketasawufan, KH Baidlowi dikenal sebagai Mursyid Sattariyah dan juga merupakan ketua pertama Jamiyah Ahlit Thariqah al-Mu’tabarah an-Nahdliyyah (Jatman), sebuah organisasi yang sangat berpengaruh dalam perkembangan tasawuf di Indonesia. Beliau memiliki posisi yang setara dengan KH Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar di Nahdlatul Ulama.

Pengalaman di Haramain

Beliau memulai perjalanan intelektualnya dengan belajar di berbagai pesantren di Nusantara, kemudian melanjutkan pendidikan di Haramain. Di Makkah, KH Baidlowi berguru kepada ulama-ulama besar dan diakui sebagai ulama berwenang yang mengajar di Masjidil Haram. 

Selain itu beliau juga berguru kepada ulama Nusantara seperti Syekh Mahfudz al-Turmusi, Syekh Umar Syatha, Syekh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, dan lain-lain.

Sejak di Haramain, Kiai Baidlowi Sudah dikenal kealimannya. Karena itu, ia dengan cepat diangkat sebagai ulama yang berwenang untuk mengajar di Masjidil Haram. Salah satu santri didikannya adalah Syaikh Yasin bin Isa al-Fadani. Bahkan karena kiprahnya yang menonjol di Tanah Haramain beliau masuk dalam kitab ‘Alamul al-Makkiyin', karya Syaikh Abdallah Abdurrahman, sebuah kitab yang menghimpun ulama-ulama besar Makkah.

Pengaruh di Tanah Air

Kontribusi di Pesantren Al-Wahdah

Kembali ke Indonesia setelah konflik Turki-Arab di Haramain, KH Baidlowi berperan penting dalam pengembangan Pesantren Al-Wahdah di Lasem. Banyak santri terkenal yang belajar di pesantren ini, termasuk Kiai Khudlori Tegalrejo Magelang, Kiai Maimoen Zubair Sarang, Kiai Asrori Magelang, Kiai Sahlan Temanggung, Kiai Dahlan, Kiai Hafidz Rembang, Kiai Hasyim Purworejo, Kiai Wahib Wahab Hasbullah Jombang, dan Kiai Dimyati Banten (Abuya Dimyathi). Ya nabi salam

Peran dalam Politik dan Kenegaraan

KH Baidlowi juga memiliki peran penting dalam politik Indonesia. Beliau adalah ulama pertama yang melegitimasi kepemimpinan Bung Karno sebagai presiden Republik Indonesia, sebuah langkah yang mendapatkan dukungan dari ulama-ulama besar lainnya.

Kisah Kedekatan dan Kesederhanaan

Salah satu cerita terkenal tentang KH Baidlowi adalah kedekatannya dengan santri, yaitu, suatu ketika pada malam hari seperti kebiasaan beliau setiap malam, setelah qiyamullail Kiai Baidlowi berjalan mengitari Pesantren dan melihat–lihat ihwal santri di malam hari yang kebanyakan sedang tertidur.

Tatkala beliau asyik mengitari Pesantren, tiba-tiba Kiai Baidlowi ingin 'buang Hajat', seketika itu juga beliau langsung menuju toilet yang diperuntukkan bagi santri.

Di tengah-tengah beliau 'buang hajat, tiba-tiba pintu toilet ada yang mengetuk “tok, tok,tok” dan terdengar pula suara deheman dari dalam toilet, seperti halnya santri pada umumnya biasa bercanda, santri yang mengetuk itu langsung nyeletuk berkata “Faham, faham seng faham Bidayah (faham, faham yang sudah faham Kitab Bidayah) ucap Santri merespons deheman 'orang' yang di dalam toilet.

Setelah KH Baidlowi selesai 'buang hajat' beliau membuka pintu toilet, alangkah kaget sang santri yang mengetuk dan berucap "Faham kitab Bidayah" tadi seraya tertunduk malu, lalu KH Baidlowi berkata seraya tersenyum “ojo’ o Bidayah, Ihya’ ae aku faham / jangankan kitab bidayah, kitab ikhya’ saja saya faham.

Kutipan dari Gus Baha

Menurut Gus Baha, KH Ahmad Bahauddin Nursalim, “Mbah Kiai Baidlowi adalah ulama yang sangat sederhana tetapi kealiman dan reputasinya mendunia.”

Artikel ini memberikan gambaran tentang betapa besar kontribusi KH Baidlowi Lasem dalam dunia Islam dan pendidikan. Beliau adalah contoh ulama yang tidak hanya alim, tetapi juga memiliki kebijaksanaan dan kesederhanaan yang luar biasa.

Posting Komentar

Posting Komentar

close