cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Ayah Ibu vs Guru Agama: Siapa yang Lebih Berjasa dalam Hidup Anda?

Baca artikel ini untuk mengetahui makna ucapan Imam Ghozali tentang guru agama dan cara menghargai ayah ibu dan guru agama dalam Islam.

Apakah Anda pernah mendengar pernyataan bahwa guru agama lebih mulia daripada ayah ibu? Pernyataan ini sering dikutip dari ucapan Imam Ghozali, salah seorang ulama besar dalam sejarah Islam. 

Namun, apakah Anda tahu makna sebenarnya dari ucapan tersebut? Apakah Anda setuju bahwa guru agama lebih berhak mendapatkan penghormatan daripada ayah ibu Anda? Artikel ini akan membahas tentang kedudukan ayah ibu dan guru agama dalam Islam, serta bagaimana cara menghargai keduanya.

Apa Kata Imam Ghozali tentang Guru Agama?

Imam Ghozali adalah seorang ahli fiqih, tasawuf, filsafat, dan ilmu-ilmu lainnya. Ia dikenal sebagai Hujjatul Islam atau Bukti Islam karena keilmuan dan karya-karyanya yang sangat berpengaruh. Salah satu karyanya yang terkenal adalah Ihya Ulumuddin, sebuah kitab yang membahas tentang berbagai aspek kehidupan seorang muslim.

Dalam kitab tersebut, Imam Ghozali menyebutkan bahwa hak guru agama lebih besar daripada hak orang tua. Berikut adalah kutipan dari kitab Ihya Ulumuddin:

حق المعلم أعظم من حق الوالدين فإن الوالد سبب الوجود الحاضر والحياة الفانية والمعلم سبب الحياة الباقية 

 ولولا المعلم لانساق ما حصل من جهة الأب إلى الهلاك الدائم وإنما المعلم هو المفيد للحياة الأخروية الدائمة أعني معلم علوم الآخرة أو علوم الدنيا على قصد الآخرة لا على قصد الدنيا

Artinya:

"Hak guru lebih besar dari hak orang tua, karena ayah adalah penyebab keberadaanmu sekarang dan kehidupan fana, sedangkan guru adalah penyebab kehidupan abadi.

Dan jika bukan karena guru, apa yang diajarkan oleh ayah akan mengarahkanmu kepada kehancuran permanen. 

Sebaliknya, guru adalah orang yang memberi manfaat kehidupan abadi di akhirat. 

Yang aku maksud adalah guru ilmu-ilmu akhirat atau ilmu-ilmu dunia yang dipergunakan untuk kehidupan akhirat, bukan untuk tujuan dunia ini."

Bagaimana Memahami Ucapan Imam Ghozali?

Ucapan Imam Ghozali di atas sering disalahpahami oleh sebagian orang. Mereka mengira bahwa Imam Ghozali menganggap ayah ibu tidak penting dan tidak berjasa dalam hidup seseorang. Padahal, ucapan Imam Ghozali tidak bermaksud demikian.

Imam Ghozali hanya ingin menekankan bahwa guru agama memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk akhlak dan iman seseorang. Guru agama adalah orang yang mengajarkan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan akhirat, seperti tauhid, syariah, akhlak, dan lain-lain. Ilmu-ilmu ini sangat penting untuk menjaga keselamatan seseorang di dunia dan akhirat.

Imam Ghozali juga tidak mengabaikan peran ayah ibu dalam hidup seseorang. Ia hanya menyatakan bahwa ayah ibu adalah penyebab keberadaan seseorang di dunia ini, sedangkan guru agama adalah penyebab keberadaan seseorang di akhirat. Keduanya sama-sama berjasa, tetapi dalam hal yang berbeda.

Imam Ghozali juga tidak menyamakan semua guru agama. Ia membedakan antara guru agama yang mengajarkan ilmu-ilmu akhirat atau ilmu-ilmu dunia yang bermanfaat untuk akhirat, dengan guru yang mengajarkan ilmu-ilmu dunia yang hanya untuk tujuan dunia. Hanya guru agama yang pertama yang lebih berhak mendapatkan penghormatan daripada ayah ibu.

Bagaimana Cara Menghargai Ayah Ibu dan Guru Agama?

Setelah memahami ucapan Imam Ghozali, kita bisa menyimpulkan bahwa ayah ibu dan guru agama sama-sama memiliki kedudukan yang tinggi dalam Islam. Keduanya berjasa dalam membimbing kita menuju kebaikan dan keselamatan. Oleh karena itu, kita harus menghargai keduanya dengan cara-cara berikut:

- Menyayangi dan berbakti kepada ayah ibu, baik ketika mereka masih hidup maupun setelah mereka meninggal. Ini adalah kewajiban seorang muslim yang diperintahkan oleh Allah SWT dan Rasulullah SAW.

- Menghormati dan menghargai guru agama, baik ketika mereka masih mengajar maupun setelah mereka pensiun atau wafat. Ini adalah tanda penghargaan atas ilmu yang mereka berikan kepada kita.

- Menuntut ilmu dari guru agama yang sholeh dan kompeten, serta mengamalkan ilmu tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Ini adalah cara terbaik untuk membalas jasa guru agama kepada kita.

- Menjaga hubungan baik dengan ayah ibu dan guru agama, serta mendoakan kesejahteraan dan maghfirah mereka. Ini adalah bentuk rasa syukur dan kasih sayang kita kepada mereka.

Dengan cara-cara di atas, kita bisa menunjukkan bahwa kita menghargai ayah ibu dan guru agama sebagai dua sosok penting dalam hidup kita. Kita juga bisa meneladani kisah-kisah para sahabat Nabi SAW yang selalu mengutamakan kedua orang tua dan guru mereka, seperti Uwais Al Qarani dan lelaki yang hendak berjihad.

Perhatikanlah kisah Uwais Al Qarani yang lebih mendahulukan ibunya dibanding berhijrah ke Madinah untuk mendapatkan kemuliaan status sebagai sahabat Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Dan renungkan kisah lelaki yang hendak berjihad memenuhi panggilan guru termulia yaitu Nabiyyuna Muhammad shallallahi alaihi wa sallam, sedangkan kedua orang tuanya menangis mengawatirkan keselamatannya bila ia ikut serta berjihad.  

Ternyata oleh Nabi shallallahu alaihi wa sallam ia justru diperintahkan untuk kembali kepada orang tuanya dan menyenangkannya, karena kekawatiran akan nasib putra tercintanya.

فارجع إليهما فأضحكهما كما أبكيتهما "

"Kembalilah kepada kedua orang tuamu, jadikanlah mereka tertawa bahagia sebagaimana engkau telah menjadikan keduanya menangis." (Ahmad dan Abu Daud)

Dan jangan lupa, bahkan lisan keduanya tiada putus berdoa mengetuk pintu Allah agar berkenan menyayangi dan melimpahkan petunjuk-Nya untuk anaknya, satu hal yang mungkin tidak pernah dilakukan oleh guru agama anda.

Ayah ibumu adalah guru pertama dan terakhirmu.

Wallahu A'lam..

0

Posting Komentar

close