cfFp0twC8a3yW2yPPC8wDumW5SuwcdlZsJFakior
Bookmark

Tiga Hal Penting untuk Menyambut Bulan Ramadhan dengan Baik

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh rahmat dan karunia dari Allah, sehingga untuk menyambutnya dengan baik, diperlukan persiapan yang tepat dan bermanfaat, terutama dalam meningkatkan takwa kepada Allah ﷻ. Berikut adalah tiga hal penting yang dapat dilakukan untuk persiapan menyambut bulan suci tersebut:

Persiapan Pertama

Salah satu persiapan yang dapat dilakukan adalah dengan mengadakan atau memprakarsai kegiatan ceramah di akhir bulan Sya’ban. Kegiatan ini bisa dilakukan di majelis ta’lim, tempat-tempat pengajian, ataupun pengarahan singkat untuk keluarga masing-masing.

Dalam kegiatan ceramah tersebut, dijelaskan berbagai bimbingan bagi jamaah atau keluarga kita agar dapat mengisi bulan yang penuh berkah itu dengan amal ibadah yang diridhai oleh Allah ﷻ. Penting untuk tidak membiarkan bulan yang sangat agung ini berlalu begitu saja tanpa meninggalkan kesan yang mendalam dalam meningkatkan ibadah dan amal shaleh kita kepada Allah ﷻ.

Pengarahan Nabi tentang Menyambut Bulan Ramadhan

Untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan, Nabi ﷺ memberikan ceramah pengarahan kepada para sahabatnya. Dalam ceramah singkat tersebut, beliau memberikan berbagai panduan yang berguna untuk mengisi bulan suci tersebut dengan amal ibadah yang bermanfaat. Berikut adalah cuplikan dari ceramah Nabi ﷺ mengenai bulan Ramadhan:

أَيُّهَا الَّناسُ قَدْ أَظَلَّكُمْ شَهْرٌ عَظِيْمٌ، شَهْرٌ مُباَرَكٌ، شَهْرٌ فِـيْهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ جَعَلَ اللهُ صِياَمَهُ فَرِيْضَةً وَ قِياَمَ لَيْلَهُ تَطَـوُّعاً مَنْ تَقَرَّبَ فِـيْهِ بِخَصْلَةٍ مِنَ اْلخَيْرِ كَانَ كَمَنْ أَدَّى فَرِيْضَةً فِـيْماَ سِوَاهُ وَمَنْ أَدَّى فِـيْهِ فَرِيْضَةً كَانَ كَمَنْ أَدَّى سَبْعِيْنَ فَرِيْضَةً فِـيْمَا سِواَهُ وَهُوَ شَهْرُ الصَّـبْرِ وَالصَّـبْرُ ثَـوَابُهُ الْجَنَّةُ وَشَهْرُ الْمُوَاسَاةِ وَ شَهْرٌ يَزْدَادُ فِـيْهِ رِزْقُ الْمُؤْمِنِ، مَنْ فَطَّرَ فِـيْهِ صَائِماً كَانَ مَغْفِرَةً لِذُنُوْبِهِ وَعِتْقَ رَقَبَتِهِ مِنَ النَّارِ وَ كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْتَقُصَ مِنْ أَجْرِهِ شَيْءٌ قَالُوْا لَيْسَ كُلُّنَا نَجِدُ مَا يُفَطِّرُ الصَّائِمَ، فَقَالَ : يُعْطِي اللهُ هَذَا الثَّوَابَ مَن فَطَّرَ صَائِماً عَلىَ تَمْرَةٍ أَوْ شُرْبَةِ مَاءٍ أَوْ مذَقَّةِ لَبَنٍ وَهُوَ شَهْرٌ أَوَّلُهُ رَحْمَةٌ وَأَوْسَطُهُ مَغْفِرَةٌ وَآخِرُهُ عِتــْقٌ مِنَ النَّارِ، مَنْ خَفَّفَ عَنْ مَمْلُوْكِهِ غَفَرَ اللهُ لَهُ وَأَعْتَقَهُ مِنَ النَّارِ وَاسْتَكْثَرُوْا فِـيْهِ مِن أَرْبَـعِ خِصَالٍ : خَصْلَتَيْنِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا ربَّكُمْ وَخَصْلَتَيْنِ لاَ غِنىَ بِكُمْ عَنْهُمَا فَأَمَّا الْخَصْلَتَانِ اللَّتاَنِ تُرْضُوْنَ بِهِمَا ربَّكُمْ فَشَهَادَةُ أَنْ لاَ إلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ تَسْتَغْفِرُوْنَهُ وَأَمَّا اللَّتاَنِ لاَ غِنىَ بِكُمْ عَنْهُمَا فَـتَسْأَلُوْنَ اللهَ الْجَنَّةَ وَ تَـعُوْذُوْنَ بِهِ مِنَ النَّارِ وَ مَنْ أَشْبَعَ فِـيْهِ صَائِماً سَقَاهُ اللهُ مِنْ حَوْضِيْ شُرْبَةً لاَ يَظْمَأُ حَتَى يَدْخُلَ اْلجَنَّةَ

“Wahai manusia, sesungguhnya telah menaungi kamu bulan yang agung dan penuh berkah. Bulan yang di dalamnya terdapat suatu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Pada bulan itu, Allah menjadikan puasanya sebagai suatu kewajiban dan qiyam atau shalat di malam harinya sebagai ibadah sunnah. Siapa yang mendekatkan diri kepada Allah dengan suatu kebajikan, maka nilainya sama dengan mengerjakan kewajiban di bulan lain. Siapa yang mengerjakan suatu kewajiban dalam bulan Ramadhan tersebut, maka sama dengan menjalankan tujuh puluh kewajiban di bulan lain. Ramadhan itu adalah bulan kesabaran; sedangkan ketabahan dan kesabaran, balasannya adalah surga. Ramadhan adalah bulan pertolongan, pada bulan itu rizki orang-orang mukmin ditambah. Siapa yang memberikan makanan untuk berbuka bagi orang yang berpuasa di bulan itu, maka ia akan diampuni dosanya, dibebaskan dari api neraka. Orang itu memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa tersebut. Sedangkan pahala puasa bagi orang yang melakukannya, tidak berkurang sedikitpun. Para sahabat bertanya: “Wahai Rasulullah, kami tidak semua memiliki makanan untuk berbuka bagi orang lain”. Bersabda Rasulullah ﷺ: “Allah memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air, atau seteguk susu”. Dialah Ramadhan, bulan yang permulaannya dipenuhi dengan rahmat, periode pertengahannya dipenuhi dengan ampunan dan maghfirah, pada periode terakhirnya merupakan pembebasan manusia dari azab neraka. Barang siapa yang meringankan beban pekerjaan pembantu-pembantu rumah tangganya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan membebaskannya dari api neraka. Oleh karena itu dalam bulan Ramadhan ini, hendaklah kamu sekalian dapat meraih empat bagian. Dua bagian pertama untuk memperoleh ridha Tuhanmu dan dua bagian lain adalah sesuatu yang kamu dambakan. Dua bagian yang pertama ialah bersaksi dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan hendaklah memohon ampunan kepada-Nya. Dua bagian yang kedua yaitu kamu memohon (dimasukkan ke dalam) surga dan berlindung dari api neraka. Siapa yang memberi minuman kepada orang yang berpuasa, niscaya Allah memberi minum kepadanya dari telagaku, suatu minuman yang seseorang tidak akan merasa haus dan dahaga lagi sesudahnya, sehingga ia masuk ke dalam surga”. (Hadits Dhaif, Riwayat Ibnu Khuzaimah: 1780, al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman: 3455. redaksi hadits di atas riwayat Ibn Khuzaimah). 

Meskipun hadits ini dikategorikan sebagai hadits dhaif, karena berkaitan dengan fadhailul a’mal (keutamaan amal), tetapi masih dapat diterima dan diberlakukan. Beberapa keterangan yang terdapat dalam hadits ini, sebagian besar telah disebutkan dalam hadits yang lebih sahih.

Imam Ahmad bin Hambal mengungkapkan pandangannya tentang hadits dhaif, beliau mengatakan: 

الْحَدِيْث الضَعِيْفُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ الرَأْيِ 

“Hadits yang dhaif lebih aku cintai dari al-Ra’yu (pendapat akal seseorang)”.

Dengan kata lain, meskipun hadits tersebut dhaif, namun tetap memiliki nilai dan manfaat sebagai sumber keutamaan amal.

Dalam kalimat yang lain, beliau berpendapat:

الْعَمَلُ بِالْحَدِيْثِ الضَّعِيْفِ أَوْلَى مِنَ الْقِيَاسِ

“Beramal dengan hadits yang dhaif lebih utama dari menggunakan qiyas (analogi)”.

Kitab-kitab terkenal yang ditulis oleh para ulama memuat hadits ini, antara lain: 

  • kitab Hayah al-Shahabah karya Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, III/400-401, 
  • kitab al-Targhib wa al-Tarhib karya Imam al-Munzdiri, I/16-17, 
  • kitab Majmu 'Fatawa wa Maqalat Mutanawwi'ah karya Syekh Abdul Aziz bin Abdullah bin Abdurrahman bin Baz, XV/44-45, 
  • dan Pedoman Puasa oleh Prof. Hasbi al-Shiddiqi.

Persiapan Kedua

Untuk mempersiapkan diri menghadapi bulan Ramadhan, kita dapat melakukan langkah kedua dengan memperbanyak puasa sunnah di bulan Sya'ban, terutama bagi mereka yang telah terbiasa melakukannya sebelumnya. Namun, perlu diingat bahwa saat satu atau dua hari sebelum masuknya bulan Ramadhan, dianjurkan untuk tidak melakukan puasa sunnah kecuali bagi mereka yang sudah terbiasa melakukannya.

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصُومُ حَتَّى نَقُولَ لَا يُفْطِرُ وَيُفْطِرُ حَتَّى نَقُولَ لَا يَصُومُ فَمَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ اسْتَكْمَلَ صِيَامَ شَهْرٍ إِلَّا رَمَضَانَ وَمَا رَأَيْتُهُ أَكْثَرَ صِيَامًا مِنْهُ فِي شَعْبَانَ

Dari Aisyah r.a. ia menuturkan, “Rasulullah ﷺ biasa mengerjakan puasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah tidak berpuasa, dan beliau biasa tidak berpuasa, sehingga kami berpendapat bahwa beliau tidak pernah berpuasa. Akan tetapi aku tidak pernah melihat Rasulullah ﷺ berpuasa sebulan penuh, kecuali pada bulan Ramadhan, dan aku tidak pernah melihat beliau lebih banyak berpuasa daripada puasa di bulan Sya’ban”. (Hadits Shahih, riwayat Bukhari: 1833 dan Muslim: 1956. teks hadits riwayat al-Bukhari).

Dalam hadits Nabi ﷺ disebutkan larangan untuk berpuasa satu atau dua hari menjelang masuknya bulan Ramadhan, kecuali bagi mereka yang telah terbiasa melakukannya. 

لَا تَقَدَّمُوا رَمَضَانَ بِصَوْمِ يَوْمٍ وَلَا يَوْمَيْنِ إِلَّا رَجُلٌ كَانَ يَصُومُ صَوْمًا فَلْيَصُمْهُ

“Jangan kamu dahului Ramadhan dengan puasa sehari atau dua hari, kecuali bagi seseorang yang mempuasakan puasa tertentu, maka ia boleh meneruskan puasanya”. (Hadits Shahih, riwayat Bukhari: 1781 dan Muslim: 1812. teks hadits riwayat al-Bukhari).

Larangan ini bertujuan untuk memberi kesempatan pada tubuh untuk mempersiapkan diri menghadapi ibadah puasa yang lebih berat di bulan Ramadhan. Selain itu, mengikuti sunnah Nabi ﷺ yang melarang berpuasa pada hari-hari tersebut dapat membantu menjaga kesehatan tubuh dan mengoptimalkan manfaat ibadah puasa di bulan Ramadhan.

Persiapan Ketiga

Menyambut bulan Ramadhan dengan gembira atau yang disebut sebagai "tahni'ah" adalah persiapan selanjutnya. Hal ini dilakukan untuk memperlihatkan rasa sukacita atas kedatangan bulan yang penuh rahmat ini. Nabi Muhammad sendiri mengucapkan "tahni'ah" dalam menyambut bulan Ramadhan. Sebagaimana sabdanya:

أَتَاكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ فَرَضَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَتُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ، فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا فَقَدْ حُرِمَ

"Telah datang kepadamu bulan Ramadhan, bulan yang diberkahi, Allah telah mewajibkan padamu berpuasa di bulan itu. Dalam bulan itu dibukalah pintu-pintu langit, dan ditutuplah pintu-pintu neraka, dan syaitan-syaitan dibelenggu. Pada bulan itu terdapat satu malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Siapa yang tidak memperoleh kebajikan di malam itu, maka ia tidak memperoleh kebajikan apapun.” (Hadits Shahih, Riwayat al-Nasa`i: 2079 dan Ahmad: 8631. dengan redaksi hadits dari al-Nasa’i).

Ibadah puasa Ramadhan memiliki nilai istimewa, karena berbeda dengan ibadah lain yang hanya untuk diri sendiri. Puasa adalah milik Allah ﷻ. Dalam melaksanakan puasa, kita diharapkan tidak hanya meninggalkan makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan, tetapi juga menjauhi segala perbuatan tercela. Puasa membentuk sikap mental yang takwa dan mengajarkan kita untuk beribadah dengan ikhlas.

Ibadah puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus selama sehari penuh. Puasa juga diharapkan dapat membentuk kepatuhan, disiplin, dan pengendalian diri. Menjaga perbuatan tercela dan beribadah dengan ikhlas selama berpuasa, akan membentuk karakter dan membantu memperbaiki akhlak.

Dalam berpuasa, manusia muslim dilatih untuk meningkatkan kesabaran, ketabahan, dan daya tahan fisik serta mental. Rasa haus dan lapar selama berpuasa dapat meningkatkan solidaritas sosial terhadap orang-orang miskin dan anak yatim yang membutuhkan. Mengenai keutamaan puasa dan keharusan bersikap sabar, dijelaskan dalam hadits Qudsi:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ وَالصِّيَامُ جُنَّةٌ وَإِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلَا يَرْفُثْ وَلَا يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّي امْرُؤٌ صَائِمٌ

Allah Azza wa Jalla berfirman: “Setiap amal seorang manusia adalah untuk dirinya sendiri kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasan kepadanya. Puasa itu adalah perisai, karena itu apabila salah seorang di antaramu berpuasa, janganlah mengucapkan perkataan yang buruk dan keji, jangan membangkitkan syahwat dan jangan pula mendatangkan kekacauan. Apabila ia dimaki atau ditantang seseorang, maka katakanlah: Aku sedang berpuasa,..”. (Hadits Shahih, riwayat al-Bukhari: 1771).

Sumber: NU Online 

0

Posting Komentar

close