Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Select a Language ☝️

Mbah K.H Wahab Hasbullah Hidup Lagi Sebelum Muktamar NU ke-25

Sebelum Muktamar NU ke-25 di Surabaya pada tahun 1971, telah muncul kabar bahwa K.H. Wahab Hasbullah atau yang biasa dipanggil Mbah Wahab telah wafat. Kabar wafatnya Mbah Wahab ini tentu membuat semua putra putri dan keluarga beliau terkejut. Tidak terkecuali para santri Mbah Wahab. Mereka pun sedih mendengar kabar tersebut. 

Tak lama kemudian, keluarga Mbah Wahab maupun Para Santri menyiapkan segala sesuatunya dalam rangka memberikan penghormatan terakhir kepada Mbah Wahab.

Para santri menyiapkan terop dan kursi untuk para pentakziah. Demikan juga dengan sejumlah peralatan dan perlengkapan yang lain di rumah duka tersebut. Di tengah-tengah persiapan itu, tiba-tiba Mbah Wahab terbangun. Sontak kejadian tersebut semakin membuat kaget para santri, keluarga dan para pentakziah  yang hadir di tempat tersebut.

"Sik-sik gak sido, aku jalok ditunda nang gusti Alloh, ngenteni sak marine Muktamar NU (sebentar-sebentak nggak jadi, saya minta ditunda kepada Allah SWT, nunggu setelah muktamar)," kata Mundjidah menirukan perkataan Mbah Wahab saat bangun dari pembaringan itu. 

Peristiwa tak lazim ini tentu membuat para santri, keluarga dan Para petakziah terheran-heran bercampur gembira karena Mbah Wahab masih hidup.

Dan ternyata benar, beberapa bulan kemudian akhirnya Muktamar NU ke-25 di Surabaya digelar. Saat itu, KH.Wahab chasbulloh didaulat menjadi Rois Aam PBNU menggantikan Rois Akbar KH Hasyim 'Asy'ari. 

Saat itu, Mbah Wahab memberikan sambutan di depan para peserta Muktamar. Namun, ketika Prosesi Muktamar belum selesai, Mbah Wahab minta izin untuk pamit pulang karena kondisi kesehatan yang menurun. 

Berselang beberapa hari setelah muktamar NU ke 25 di Surabaya kondisi kesehatannya semakin menurun. Mungkin ini termasuk salah satu yang dinamakan Karomah. Ketika itu, sepertinya Mbah Wahab benar-benar telah tahu jika akan meninggal dunia, hingga akhirnya dipanggillah putra putrinya untuk pamit. "Wes saiki wayahe aku dipundut (sudah, sekarang waktunya saya dipanggil oleh Allah)," katanya kala itu seperti ditirukan Bu Nyai Munjidah Wahab.

Kemudian, Mbah Wahab mengucap kalimat thyyibah Laa Ilaaha Illallooh, lalu beliau pun menghembuskan nafas terakhir. 

InsyaAllah Husnul Khatimah, (له الفاتحة)