Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Memahami Maksud Ucapan "Gitu Aja Kok Repot" Milik Gus Dur

Pada awal tahun 2000an, kita sering sekali mendengar ucapan "Gitu aja kok repot!" Sebuah kalimat pendek dan sederhana, namun penuh makna yang sangat kuat. 
Sudah dimaklumi bahwa kalimat tersebut melekat kuat pada sosok Presiden keempat Republik Indonesia, yaitu KH. Abdurrahman Wahid, atau yang biasa disapa Gus Dur.

Walau kalimat tersebut terlihat sederhana namun masih banyak orang yang gagal paham dalam memaknai dan mempersepsikan ungkapan itu. Tak sedikit yang menganggap bahwa pernyataan kalimat tersebut memberikan kesan bahwa Gus Dur dianggap sebagai pemimpin yang menyepelekan masalah.

Menurut salah satu orang dekat Gus Dur, yaitu Munib Huda Muhammad, bahwa kalimat "gitu aja kok repot" kerap dilontarkan oleh Gus Dur jauh hari sebelum beliau menjadi presiden. Munib ini  merupakan salah satu orang dekat Gus Dur yang sering kali mendampingi beliau. Bahkan, dia juga pernah nyantri di Pondok Ciganjur sejak awal 1998 lalu. 

Menurut pengakuan Munif, bahwa, "Kalimat itu sering diungkapkan Gus Dur dalam berbagai momen. Seperti saat beliau berpidato dan saat bertemu dengan orang lain. Lalu pernyataan yer, semakin menyebar luas dan semakin viral karena sering dikutip oleh media massa. Ungkapan tersebut tidak di-setting. Kalimat tersebut murni⁷ keluar spontan dari mulut beliau."

Selain itu, ungkapan itu juga bermakna bentuk kepasrahan kepada Allah SWT. Sebab, yang mengatur semua yang terjadi di dunia hanya Tuhan. "Jadi, ini ungkapan tasawuf yang diyakini betul. Makanya enak betul Gus Dur hidupnya, melihat semuanya serba ringan."

Sementara itu, putri Gus Dur, Zanuba Arifah Chafsoh alias Yenny Wahid, menyebut ungkapan itu berasal dari ilmu fikih, yakni dari kosa kata arab "Yassir wala Tu'assir" yang artinya permudah dan jangan dipersulit.

Karenanya, menurut Yenny, ayahnya tidak pernah mempersulit segala urusan. Malah semua orang yang mengalami kesulitan, mereka datang kepada Gus Dur maka akan selalu dibantu. Gus Dur tidak pernah memandang latar belakang, suku, ras, agama, dan golongan.

Lebih jauh kalimat tersebut bisa juga bermakna: Permudahlah, jangan dipersulit, berilah kabar gembira, jangan ditakut-takuti.

Salah satu contohnya. Beberapa minggu sebelum Gus Dur dijatuhkan dari kursi kepresidenan, ada beberapa sahabat Gus Dur datang ke istana memberi saran kepada beliau supaya mundur dari jabatan presiden. Saat itu Yenny khawatir Gus Dur akan marah. 

Mendengar saran agar mundur, ternyata Gus Dur tidak marah, padahal situasi ketika itu sangat panas. Beliau malah sempat menanggapinya dengan santai dan bergurau,
"Lha Maju saja dituntun kok disuruh mundur?” ujar Gus Dur yang disambut tawa renyah kawan-kawan di sekelilingnya.

Wallahu a’lam bish-shawabi