Jika Bukan Aurat, Kenapa Ditutup Saat Shalat?

JIKA BUKAN AURAT, KENAPA KAU MENUTUPNYA DENGAN MUKENA SAAT SALAT?

By Fissilmi Hamida

Masih ramai menyoal pernyataan kontroversial bahwa hijab tidak wajib. Bahwa hijab adalah belenggu. Bahwa yang awalnya berhijab lalu memutuskan lepas hijab disebut sebagai hijrah. Yang berhijab dinyinyiri. Yang lepas hijab dipuji-puji.

Pagi tadi, lewat di beranda screenshot status seorang lelaki. Bunyinya begini :

"Yang bilang jilbab itu nggak wajib, kenapa pas salat pakai mukena?"

Logis! Keren!

Itu kesan pertama saat aku membaca status cadas ini.

Coba kita renungkan.

đŸŒ»đŸŒ»đŸŒ»

Sering saat berada di pusat berbelanjaan, aku salat berbarengan dengan pengunjung lain. Mulai dari yang berhijab, berpakaian tertutup, sampai yang ber-rok mini.

Benar.

Saat salat, semua memakai mukena. Termasuk yang belum berjilbab dan bahkan yang masih memakai rok mini. Tak ada aurat yang tampak saat salat. Semua tertutup rapat.

Apa artinya ini?

Artinya, meski belum berhijab, meski masih berpakaian terbuka, mereka sebetulnya paham jika itu adalah aurat. Karenanya, saat menghadap pada-Nya, mereka menutupinya dengan mukena.

Bahkan andai pun tanpa mukena, ketika kita salat, kita berusaha menutupi semua aurat kita. Kaki dengan kaus kaki, misalnya.

đŸŒ»đŸŒ»đŸŒ»

Dari sini, aku jadi bertanya-tanya. Apakah mereka para wanita yang berteriak hijab tak wajib itu saat salat juga membiarkan aurat mereka terbuka? Atau mereka juga menutupinya dengan mukena?

Jika pakai mukena, bukankah sebetulnya mereka mengakui jika yang ditutup mukena itu adalah aurat mereka?

đŸŒ»đŸŒ»đŸŒ»

Aku punya banyak teman muslim yang belum berhijab. Yang pakaiannya masih terbuka juga banyak.

Tapi, mereka tidak pernah nyinyir terhadab hijab. Mereka tidak pernah mengolok syariat untuk menjustifikasi kenapa mereka belum berhijab atau kenapa pakaian mereka masih terbuka. Mereka menjalani pilihan mereka tanpa mengolok mereka yang berusaha menjalankan perintah agamanya.

Berbeda sekali, kan, dengan yang sedang ramai belakangan ini?

đŸŒ»đŸŒ»đŸŒ»

In frame :

Saat berkunjung ke negara Wales, negara yang terletak di sebelah England (Inggris). Ini di ibukotanya. Kota Cardiff namanya. Aku dan teman-teman menumpang salat di salah satu sisi gedung Royal Welsh College of Music and Drama. Diam-diam difoto oleh salah satu teman yang sudah selesai lebih dulu salatnya.

Yang di sebelah kanan itu aku.
Perhatikan. Aku salat berkaus kaki.
Jangan tanya kenapa tidak memakai mukena. Karena di negeri Britania Raya, sangat jarang orang salat pakai mukena.

Di keseharian, aku masih sering tak memakai kaus kaki saat ke mana-mana. Tapi saat salat, tentu saja aku menutupinya. Karena aku sadar, kaki adalah aurat juga.

Meski dalam keseharian aku masih sering tak menutupi kaki, tapi aku tak pernah mengolok mereka yang sudah lebih sempurna menutup aurat dengan ke mana-mana menutupi aurat kaki dengan kaus kaki.

Tak pernah pula aku menafsirkan sendiri aturan agama dengan logika sak karepku dewe alias logika semau sendiri untuk menjustifikasi kenapa aku masih sering tak berkaus kaki.

Sama kan, dengan kasus hijab ini?

Silakan kalau kamu belum mau berhijab.
Monggo kalau kamu masih nyaman dengan gaya 'hijab' berupa kain dilampirkan di kepala yang tetap memperlihatkan leher dan rambutmu.
Hak kamu kalau kamu masih ingin gaya pakaian serba terbuka.

Tapi ....
Sebaiknya diam saja.
Tak perlu berteriak koar-koar mengolok syariat agama.
Sebab jika kamu masih salat menggunakan mukena, atau menutup rapat tubuhmu saat bersujud pada-Nya, sesungguhnya di lubuk hati, kamu mengakui jika yang kamu tutupi itu adalah aurat juga.

Belum ada Komentar untuk "Jika Bukan Aurat, Kenapa Ditutup Saat Shalat? "

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel